“Kita sering membeli harapan tetapi tidak dengan prosesnya”
Sebuah rentetan peristiwa terjadi karena aksi,
yang kemudian tercatat dalam sebuah memori yang bernama otak atau lebih
tepatnya bagian otak yang bernama amygdala.
Harapan adalah bakan bakar, harapan adalah mesiu untuk memberikan getaran pada
sekitar. Bagaimana jika kita hidup tanpa harapan, tidak! tidak mungkin karena
ketika hal ini yang terjadi maka kita akan lompat dari jembatan layang janti1.
Karena dalam hidup, kita pasti berharap sakalipun harapan itu sekecil besok mau
(makan) apa, aku pingin punya (pacar). Tetapi perlu diingat tidak ada yang
benar-benar kecil maupun besar, semua bergantung pada konteks kehidupan
masing-masing.
Menjual harapan
mungkin lumrah kita lakukan, sedari kita mulai berbica, kita mulai menjual
harapan, salah satu diantara kita pernah menjual harapan sewaktu kecil “menjual
harapan kepada orang tua untuk bisa berhemat” dengan berjanji untuk tidak minta
mainan lagi, ini salah satu contoh dari sekian banyak harapan yang kita jual.
Tetapi kemudian ingatan itu memudar hilang dan terhempas entah kemana. Tetapi ada
beberapa kenangan yang tak bakal pernah kering sempurna, mungkin ini sedikit
memuakkan bagi sebagian kita tapi bagaimanapan juga proses merawatnya lah yang
menentukan, apakah itu bisa dikatakan baik atau buruk.
Transaksi
Harapan
“kitika kita menjual, maka kita juga
harus membeli”
Ini penting!! Agar kita tak pernah
merasa kesepian. Transaksi adalah proses menukar sesuatu dengan sesuatu yang
lain, transaksi tak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat materil tetapi
dapat juga sesuatu yang sifat. Sedangkan harapan sendiri merupakan mesiu yang
menjadi pemacu kita agar terus hidup. Mungkin diantara kita ada yang tidak
sadar bahwa kita bertransaksi dengan peliharaan kita, pacar kita, orang tua
kita, dan masih banyak yang lainya. Mari kita ambil contoh pada hewan
peliharaan kita, misalnya; “ikan” Ia berharap agar supaya terus di beri makan
oleh majikanya, kolamnya dibersihkan, meskipun ia tek pernah bisa bilang atau
meminta. Majikan pun demikian, ia berharap agar ikan terus hidup, menjadi
penghias ruangan, dan mejadi teman kita saat curhat. Dengan pacar kita juga
demikian kita melakukan transaksi harapan, berharap agar tetap komitmen dengan
mimpi Bersama, berharap mendukung dan di dukung, dan masih banyak lagi
transaksi yang dilakukan. Beda halnya ketika kita menempuh jalan kesunyian;
misalnya sufi dan penempuh jalan kesunyian yang lain. Pada kalimat pertama
tertera “agar tidak merasa kesepian”. Benar, coba kalian ingat pernah tidak,
sama sekali tidak bertransaksi harapan dengan apapu atau siapapun, jawabanya
tentu tidak. Tetapi tetap kita merasakan kesepian bukan? Sebagian kalian
menjawab iya, karena memang besara transaksi yang kalian terlampau kecil, tidak
terlalu berarti untuk hidup kalian. Coba ingat-ingat lagi deh, ambil waktu
beberapa menit untuk diam dan mengingat, hari ini bertransaksi dengan apa saja
atau siapa saja.
Komentar
Posting Komentar