Langsung ke konten utama

Manusia Modern

 Kebutuhan manusia akan sebuah kepastian berbuah tindakan berhala yang tanpa dasar, Tak ada yang pasti di masa depan kecuali “pasti aku akan mati” Carut marutnya dunia memembuat manusia mehunkan berhala. dalam hal ini teknologi, Dalam sebuah analisis Robert H. Davis kemungkinan-kemungkinan yang sering muncul dalam masyarakat teknologi adalah sebagai Berikut: individu menjadi pasif, cepat bosan,  mati rasa, mengidap simptom-simptom penyakit cemas,  depresi, dipersonalisasi, hidup yag begitu-begitu saja tidak ada seninya,  serta kekerasan. 

Manusia modern terjebak pada keindahan yang palsu (false) disuguhkan oleh teknologi yang kian muktahir tetapi sekaligus terbunuhnya kemanusiaan.  

Dalam analitik saya.  Sebelum di temukannya sebuah teknologi manusia yang hendak berpergian pasti berkontak langsung dengan manusia lain untuk sekedar bertanya tetapi dengan ditemukannya teknologi tidak ada percakapan sehangat dulu.Tetapi bagaimanapun perubahan akan terus berubah seiring perputaran siang dan malam. 

Erich frorm, didalam bukunya revolusi pengharapan, menjelaskan harapanya pada masyarakat teknologi, Pengharapan tidak berarti menunggu sebuah perubahan, tidak pula memaksakan peubahan yang tidak mungkin terjadi, harapan haruslah pada sesuatu yang rasiaonal termasuk pada wanita yang di dambakan. Jangan pernah menunggu sebuah perubahan tapi lakukanlah perubahan karena kita tidak pernah tau kapan kesempatan itu diberikan kita tidak akan pernah tau sebelum kita mencoba.

Selanjutnya, adalah peranan iman didalam sebuah harapan, iman memiliki pengaruh yang amat besar tentunya iman dengan visi dan pemahaman pun sebaliknya iman juga harus di topang dengan sebuah harapan. Masuk pada pandangan masyarakat robot, masyarakat robot sering menganggap sesuatu hal yang efisien padadahal itu tindakan inefisien. Contoh; pabrik menganggap dengan membuang limbah sembarangan akan lebih efisien , memang efisien untuk masa kini tetapi harus di bayar mahal oleh anak cucu kita.

            Prinsip-prinsip manusia robot yang terjadi saat ini pertama, bahwa segala sesuatu harus di kerjakan karena secara teknis hal tersebut mungkin, jika dimungkinkan memproduksi nuklir maka akan di produksi meskipun konsekuensinya hancurnya peradaban!  Kedua, efisiensi maksimal dan output, industri hanya memperhatikan akibat- akibat langsung lupa bahwa manusia memiliki psikis. Dengan adanya industri imajinasi terbelenggu dan menjadi pasif. Dan untuk mengobati keterbelengguan industri memaksa manusia mengonsumsi rokok, mirasantika dsb.

Seharusnya prinsip utama adalah penghormatan kepada kehidupan( reverence for life) dimana apa yang bernilai baik yaitu apa saja yang menyumang pada semakin mekarnya kemampuan-kemampuan spesifik manusia dan mendorong kehidupan . sedangkan apa yang yang buruk yaitu apa saja yang mencekik dan mengkebiri daya hidup manusia. Manusia akan sadar ini semua manakala ia sudah mencapai suatu perkembangan ekonomi dan sosial, diama ia sudah mencapai titik kemapanan/ cukup waktu dan energi untuk secara khusus menggumuli tujuan-tujuan hidup. 

Tidak dapat dipungkiri pada masyarakat robot, manusia- manusia telah direifikasi sehingga mengalami pendangkalan dalam menghayti hidup mau tak mau ia harus mengikuti prinsip-prinsip yang telah di programkan baginya oleh mesin. Jika hakikat manusia di reduksi menjadi angka di komputer  manusia kehilangan orisinilitas dan kreatifitas.

Masyarakat robot bisa di ibaratkan: sekeping mata uang yang gambarnya tidak ada lagi, ia tak punya jati diri, tak punya identitas tetapi takut pula untuk membuat keputusan mau kemana.

Ahir kata, Penulis mohon maaf jika apa yang di sajikan tidak begitu memuaskan karena memang keterbatasan pengetahuan penulis penulis. Penulis hanya berupaya memupuk kewarasa.

 


Refrensi: Revolusi Pengharapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BALADA TUAN

D ilema eksistensial manusia seperti saya terlalu sering mungusik dan memaksa otak untuk terus berfikir, lagi-lagi pemantasan diri dan kikuknya mulut untuk diajak bersua, buku yang telah dilahappun menguap tanpa menghasilkan sebuah karya, apa ini hanya perihal waktu sepertihalnya kita ketahui saat berumur 6 tahun Thomas Edison di usir pulang oleh gurunya karena bodoh, tetapi sekarang seluruh duniapun tahu bahwa thomas Edison yang akhil balig betul betul menjelajahi dunia dengan alam pikiranya dengan otak yang teramat gemilang. Barangkali itu hanya pembenaranku saja,   pembenaran atas apa yang tak mampu aku lakukan atau hanya membuat agar perasaan ini gembira, tapi pembenaran yang seperti ini saya kira hanya akan membuat saya membunuh atas dialektika dikutip dari madilog “demikian pengetahuan baru menimbulkan persoalan baru, demikian persoalan itu akan terus terselesaikan” Tidak ada batas pengetahuan! Disini saya merasa terjerembab di dalam dogma saya tak lagi mengeluarkan kritik ...

Menjual Harapan

  “Kita sering membeli harapan tetapi tidak dengan prosesnya” S ebuah rentetan peristiwa terjadi karena aksi, yang kemudian tercatat dalam sebuah memori yang bernama otak atau lebih tepatnya bagian otak yang bernama amygdala . Harapan adalah bakan bakar, harapan adalah mesiu untuk memberikan getaran pada sekitar. Bagaimana jika kita hidup tanpa harapan, tidak! tidak mungkin karena ketika hal ini yang terjadi maka kita akan lompat dari jembatan layang janti 1 . Karena dalam hidup, kita pasti berharap sakalipun harapan itu sekecil besok mau (makan) apa, aku pingin punya (pacar). Tetapi perlu diingat tidak ada yang benar-benar kecil maupun besar, semua bergantung pada konteks kehidupan masing-masing. Menjual harapan mungkin lumrah kita lakukan, sedari kita mulai berbica, kita mulai menjual harapan, salah satu diantara kita pernah menjual harapan sewaktu kecil “menjual harapan kepada orang tua untuk bisa berhemat” dengan berjanji untuk tidak minta mainan lagi, ini salah satu contoh d...